From Nothing to
Something
"Menjadi
seorang wartawan sangatlah menantang namun asik. bukan hanya dapat membantu
orang lain, tapi dapat membanyak kesempatan-kesempatan lainnya." ungkapan
seorang wartawan yang telah berada di ujung menara pencapaiannya.
Pagi yang
dingin disertai dengan hujan rintik kecil membuat suasana kelas terasa sangat
nyaman, terlihat seorang pria berdiri tegap dengan tubuh besar dan tinggi
dengan senyuman manis memperkenalkan dirinya di depan kelas. Siapa dia? ada
keperluan apa dia di kelas ini? sehebat apa sampai ia menjadi seorang
narasumber? itulah pemikiranku yang terbesit saat pertama kali melihatnya.
Alvin begitu
lah ia kerap kali disapa, Alvin adalah seorang wartawan sekaligus seorang dosen
di salah satu universitas di daerah jakarta utara, jika kalian membaca tulisan
ini kalian akan sangat terkesima dengan perjalan hidup pria bertubuh tinggi
besar ini.
Silvanus
Alvin menempuh karirnya semenjak ia berada di bangku mahasiswa di Universitas
Multimedia Nusantara. Ia mulai menyampaikan aspirasinya dari membuat majalah
dengan nama majalah sembilan
berlandaskan dari sembilan elemen jurnalistik.
Alvin mulai
menulis aspirasinya karena geram dan kesal dengan keadaan kantin di kampusnya
itu, ia merasa bahwa kantinnya ini tidak layak untuk di jadikan kantin kampus,
karena kotor dan terlihat kumuh. ia pun menuangkan pemikirannya itu dan
mengkritiknya melalui majalah yang ia cetak sebanyak 50 eksemplar itu bersama
dengan 8 teman lainnya.
Pria berumur
28 tahun ini sangat menyukai olahraga terutama bola, ia berfikir dengan menjadi
wartawan ia dapat meliput berita sambil jalan-jalan. namun lama-kelamaan ia
merasa bidang politik, ekonomi dan kriminal adalah suatu hal yang baru dan
menantang baginya, dengan begitu ia terus mendalami bidang tersebut.
Waktu
bergerak begitu cepat dan ia pun sudah 4 tahun lebih menjadi salah satu
wartawan liputan 6.com walau sebulmnya pernah 3 bulan menjadi wartawan detik.com
dan 2 bulan menjadi kompas.com . karena sudah
lama menjadi seorang wartawan banyak sekali hal yang ia alami mulai dari tidur
di depan rumah pejabat dengan berlanaskan koran hanya untuk mendapatkan berita
terbaru, sampai mendapat beasiswa untuk kuliah di luar negri atas rekomendasi orang
nomor dua di Indonesia saat ini.
"Saya bukannya nepotisme, saya tetap ikutin prosedur dan tiga kali seleksi kok untuk bisa masuk universitas ini." ucap Alvin. ia menambahkan bahwa ia menempuh pendidikan S2 nya di inggris yaitu di University of Leicester hanya karna idolanya dalam permainan sepak bola mewakili kota Leicester, dengan begitu ia mencari dan langgung apply masuk ke universitas ini.
Ia juga
menambahkan bahwa ia di terima oleh dua universitas yaitu Univerisity of
Leincester dan University of Sussex , "waktu kecil saja sudah
sering diejek anus anus, gimana kuliah disini kan bawa nama nya ga enak."
gurau pria 28 tahun ini.
Hidupnya
yang menarik di tambah dengan ceritanya mengenai diajak oleh presiden Jokowi ke
Korea Selatan dan Russia bertemu dengan kepala negara masing-masing. ditambah
lagi, ia pernah naik pesawat nomor satu di Indonesia. bayangkan? siapa lagi
yang memiliki kesempatan seperti ini?
Kisah yang
menarik ini membuat dirinya tidak sombong diri, ia juga memberikan kita
bagaimana cara menjadi seorang wartawan yang cekapan seperti dirinya yaitu kita
harus memiliki kontak yang banyak agar kita dapat mewawancarai para pejabat ,
masinng-masing dari kita harus memiliki skill ketik cepat karena kita sudah
berada di zaman online ini.
dengan suara lembut dan rendah hati ia juga
menambahkan bahwa kita harus memahami cara menulis EDFAT (Entire, Details,
Frame, Angle, Time) ditambah kita juga harus memiliki keberanian bertanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar