Senin, 05 Februari 2018

From Nothing to Something



From Nothing to Something



"Menjadi seorang wartawan sangatlah menantang namun asik. bukan hanya dapat membantu orang lain, tapi dapat membanyak kesempatan-kesempatan lainnya." ungkapan seorang wartawan yang telah berada di ujung menara pencapaiannya. 


Pagi yang dingin disertai dengan hujan rintik kecil membuat suasana kelas terasa sangat nyaman, terlihat seorang pria berdiri tegap dengan tubuh besar dan tinggi dengan senyuman manis memperkenalkan dirinya di depan kelas. Siapa dia? ada keperluan apa dia di kelas ini? sehebat apa sampai ia menjadi seorang narasumber? itulah pemikiranku yang terbesit saat pertama kali melihatnya. 
 
Alvin begitu lah ia kerap kali disapa, Alvin adalah seorang wartawan sekaligus seorang dosen di salah satu universitas di daerah jakarta utara, jika kalian membaca tulisan ini kalian akan sangat terkesima dengan perjalan hidup pria bertubuh tinggi besar ini.
Silvanus Alvin menempuh karirnya semenjak ia berada di bangku mahasiswa di Universitas Multimedia Nusantara. Ia mulai menyampaikan aspirasinya dari membuat majalah dengan nama majalah sembilan berlandaskan dari sembilan elemen jurnalistik.

Alvin mulai menulis aspirasinya karena geram dan kesal dengan keadaan kantin di kampusnya itu, ia merasa bahwa kantinnya ini tidak layak untuk di jadikan kantin kampus, karena kotor dan terlihat kumuh. ia pun menuangkan pemikirannya itu dan mengkritiknya melalui majalah yang ia cetak sebanyak 50 eksemplar itu bersama dengan 8 teman lainnya. 

Pria berumur 28 tahun ini sangat menyukai olahraga terutama bola, ia berfikir dengan menjadi wartawan ia dapat meliput berita sambil jalan-jalan. namun lama-kelamaan ia merasa bidang politik, ekonomi dan kriminal adalah suatu hal yang baru dan menantang baginya, dengan begitu ia terus mendalami bidang tersebut.

Waktu bergerak begitu cepat dan ia pun sudah 4 tahun lebih menjadi salah satu wartawan liputan 6.com walau sebulmnya pernah 3 bulan menjadi wartawan detik.com dan 2 bulan menjadi kompas.com . karena sudah lama menjadi seorang wartawan banyak sekali hal yang ia alami mulai dari tidur di depan rumah pejabat dengan berlanaskan koran hanya untuk mendapatkan berita terbaru, sampai mendapat beasiswa untuk kuliah di luar negri atas rekomendasi orang nomor dua di Indonesia saat ini.

"Saya bukannya nepotisme, saya tetap ikutin prosedur dan tiga kali seleksi kok untuk bisa masuk universitas ini." ucap Alvin. ia menambahkan bahwa ia menempuh pendidikan S2 nya di inggris yaitu di University of Leicester hanya karna idolanya dalam permainan sepak bola mewakili kota Leicester, dengan begitu ia mencari dan langgung apply masuk ke universitas ini. 

Ia juga menambahkan bahwa ia di terima oleh dua universitas yaitu Univerisity of Leincester dan University of Sussex , "waktu kecil saja sudah sering diejek anus anus, gimana kuliah disini kan bawa nama nya ga enak." gurau pria 28 tahun ini.

Hidupnya yang menarik di tambah dengan ceritanya mengenai diajak oleh presiden Jokowi ke Korea Selatan dan Russia bertemu dengan kepala negara masing-masing. ditambah lagi, ia pernah naik pesawat nomor satu di Indonesia. bayangkan? siapa lagi yang memiliki kesempatan seperti ini? 

Kisah yang menarik ini membuat dirinya tidak sombong diri, ia juga memberikan kita bagaimana cara menjadi seorang wartawan yang cekapan seperti dirinya yaitu kita harus memiliki kontak yang banyak agar kita dapat mewawancarai para pejabat , masinng-masing dari kita harus memiliki skill ketik cepat karena kita sudah berada di zaman online ini. 

dengan suara lembut dan rendah hati ia juga menambahkan bahwa kita harus memahami cara menulis EDFAT (Entire, Details, Frame, Angle, Time) ditambah kita juga harus memiliki keberanian bertanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar